Desi, Tara, dan Ika sedang bersantai-santai menikmati liburan semester satu. Karena selama seminggu kemarin mereka bertiga ulangan semester satu. Mereka adalah siswi-siswi yang berprestasi. “Eh… guyz gimana klo kita jalan-jalan aja sambil cuci mata???” tanya Tara pada Desi dan Ika.“Duch… lagi asyik nich! Nanggung, sebentar lagi juga selesai.” Jawab Ika sambil asyik membaca komik ‘Crayon Shincan’ yang sudah seminggu belum juga selesai.“Iya nich Tara, asyik-asyik baca diajak jalan-jalan!!!” sahut Desi yang sedang asyik membaca novel ‘April CafĂ©’ yang akan selesai dalam dua hari ini.“Duch… kalian ini kutu buku banget ya! Boring nie dirumah terus! Kta jalan-jalan aja yukz hilangin penat, khan habis ulangan.” ujar Tara dengan panjang lebar.“Taraaa…… bisa ga’ sich kamu diam sejenak! Ganggu tau!” teriak Desi dan Ika menyuruh Tara diam, serta dengan tatapan mata yang tajam.“Okey… Okey… tapi jangan pake teriak donk! Kupingku ga’ tuli tau? And cepetan dikit donk bacanya, bosen nie nungguin kalian baca!” ucap Tara memberitahu kepada kedua supaya bicara ga’ usah teriak.“Siapa suruh nungguin kita baca?” tanya Ika dengan sedikit menyindir Tara.“Kenapa kamu ga’ baca novel atau komik juga?” tanya Desi kepada Tara sambil membaca novel dan merapikan rambutnya.“Males ah…!” jawab Tara dengan santainya. Beberapa saat setelah mereka berdebat, dua orang cowok tiba-tiba datang kerumah Tara untuk mencari Desi dan Ika. Ternyata mereka adalah sahabat Desi dan Ika waktu kelas empat SD. Dibalik tali persahabatan antara Desi, Ika, Doni, dan Rian, ternyata Doni dan Rian menyimpan sebuah perasaan yang bisa dibilang sangat berharga bagi mereka berdua. Karena perasaan yang mereka simpan benar-benar dari hati nurani mereka sendiri. Tapi, pada waktu itu mereka belum bisa mengutarakan perasaan spesial itu kepada Desi dan Ika karena mereka menganggap bahwa mereka masih terlalu dini untuk berpacaran. Setelah tujuh tahun Doni dan Rian menyimpan perasaan tersebut, mereka sudah tidak sabar untuk mengutarakan perasaan spesial yang telah mereka simpan selama tujuh tahun itu. “Assalamu’alaikum” ucap Doni sambil mengucapkan salam.“Wa’alaikumsalam” jawab Tara“Apakah Desi dan Ika ada dirumah ini?” tanya Rian.“Ooo… Desi dan Ika ada disini. Kalian siapanya Desi dan Ika?” jawab Tara sambil bertanya kembali kepada Doni dan Rian.“Kami berdua sahabatnya Desi dan Ika semenjak kelas empat SD.” jawab Rian.“Oooo… gito! Tunggu sebentar, saya akan panggilkan Desi dan Ika. Silahkan masuk dulu.” ucap Tara sambil mempersilahkan masuk Doni dan Rian. Beberapa menit setelah mereka dipersilahkan masuk sama Tara keluarlah dua perempuan muda. Mereka adalah Desi dan Ika. Rian dan Doni sangat terkejut dengan kedua perempuan yang ada dihadapan mereka. Karena penampilan Desi dan Ika berbeda jauh dengan penampilan mereka tujuh tahun yang lalu. Semetara itu, Tara pergi kedapur untuk mempersiapkan hidangan makanan dan minuman untuk tamu dari kedua sahabatnya itu. “Desi…” ucap Rian dengan muka penasaran“Ya… iyalah Nu,? Emang kamu pikir aku siapa?” jawab Desi meyakinkan pertanyaan Rian.“Gila, kamu tuch berubah Desi! And itu Ika khan?” ucap Rian memuji-muji Desi dan menunjukkan jari telunjuknya kearah Ika.“Duch… kalian ini apa-apaan sich! Masa’ lupa sama kita?” sahut Ika dengan muka penasaran.“Habisnya kalian berubah sich… Jadi lupa deh!” jawab Doni dengan sedikit bercanda.“Oh… ya! Kalian mau ngapain kesini? Mau ngomong apa?” tanya Ika sambil terus memegang komik ‘Crayon Shincan’ yang tinggal sedikit lagi selesai. Mereka terus bercakap-cakap seperti tujuh tahun yang lalu. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Tapi, dalam perbincangan tersebut mereka belum mengutarakan perasaan spesial yang telah mereka simpan selama tujuh tahun itu. Tak lama setelah berbicang-bincang, Tara membawakan minuman dan makanan yang super enak, yang belum pernah dirasakan oleh Doni dan Rian. Kemarahan Tara hilang karena bagi Tara kemarahan tak boleh dilimpahkan kepada tamu. “Eh… Desi, Ika bantuin aku donk! Berat nich!” ucap Tara sambil memanggil Desi dan Ika supaya membantu Tara membawakan minuman dan makanan untuk kedua sahabat Desi dan Ika.“Iya… iya…” jawab Ika dengan kalimat setuju. Desi, Ika, dan Tara langsung menawarkan makanan dan minuman yang telah mereka bawa dari dapur. “Don, Nu, nie makanan dan minumannya, silahkan diambil.” ucap Desi sambil menawarkan minuman dan makanan yang telah mereka bawa dari dapur.“O…iya sampai lupa! Don, Nu, ini Tara sahabat baru aku! And Tar, ini Doni dan Rian. Mereka sahabat aku waktu SD dulu.” ucap Ika memperkenalkan Tara pada Doni dan Rian sambil menunjukkan jari pada Doni dan Rian.“Oooo… jadi nama kalian Rian dan Doni ya? Salam kenal ya?” ucap Tara sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan kepada Doni dan Rian.“Salam kenal juga” sahut Doni dan Rian sambil menerima uluran tangan Tara dengan maksud berkenalan.“Wah… kalian ini baru semenit aja akrabnya luar biasa deh. Hebat… hebat… hebat…” ucap Ika dengan sedikit tertawa kecil yang ditahan.
Setelah Desi dan Ika memperkenalkan Doni dan Rian kepada Tara, mereka berdua kembali ke kamar Tara untuk menaruh komik dan novel mereka yang dari tadi dibawanya terus-terusan. Dalam perjalanan menuju kekamar Tara, Desi dan Ika tak lupa membaca komik dan novel yang dipegangnya, karena cerita dalam komik dan novel tersebut tinggal 1-3 halaman lagi mereka selesaikan.
Diruang tamu, Tara sangat berhati-hati kalau berbicara dengan Doni dan Rian, karena Tara pernah diberitahu sama Desi dan Ika kalau Doni dan Rian orangnya suka tersinggung. Lima menit suasana diruang tamu sangat sunyi, dan akhirnya Doni dan Rian memberanikan diri untuk berbicara kepada Tara untuk meminta izin klo mereka berdua ingin berbicara berdua dengan Desi dan Ika. “Emm… Tara, aku boleh ngomong berdua ga’ sama Desi?” tanya Doni.“Iya Tar, aku juga butuh nie ngomong berdua sama Ika! Pleezz…” ucap Rian meminta izin pada Tara untuk berbicara berdua sama Ika.“Ya udah, kalian boleh koq ngomong berdua sama Desi dan Ika. Biar lebih nyaman kalian ngomong berdua aja di taman belakang rumahku.” jawab Tara memperbolehkan Doni dan Rian berbicara berdua dengan kedua sahabatnya itu.Berselang beberapa menit kemudian Desi dan Ika datang menghampiri Tara, Doni, dan Ika. “Eh… Desi, Ika, Doni dan Rian mau bicara berdua tuch sama kalian” ucap Tara dengan muka senang melihat kedua sahabatnya itu bisa bicara berdua dengan sahabat lamanya itu.“Ehmm Don, Nu, sorry tapi aku sama Ika akan ada acara reunian SMP mendadak…” ujar Desi dengan muka cemberut.“Oooo…”“Tar, Don, Nu, kita pergi dulu ya! Daaa…” ucap Ika berpamitan dengan mereka bertiga.
Setelah lima menit Desi dan Ika pergi, wajah Doni dan Rian terlihat sedih. Dan Tara berusaha menghibur mereka berdua. Tapi, usaha Tara menghibur mereka berdua gagal, Doni dan Rian tetap ingin pulang. Tapi, Tara cepat bertindak, Tara berjanji kalau hari Sabtu 14 February 2009 Doni dan Rian akan dipertemukan di Taman Kota. Dan setelah seharian Tara, Doni, Rian, Ika dan Desi berbincang-bincang, tiba-tiba Tara merasakan hal yang spesial terhadap Doni. Tapi, Tara tak mau merusak keinginan Doni untuk memiliki Desi tuk jadi pacarnya.
TWO DAYS LATER Tara tak melupakan janjinya kepada Doni dan Rian bahwa Tara akan mempertemukan mereka berdua dengan Ika dan Desi, pada hari Sabtu 14 February 2009 di Taman Kota. Sebelum itu, Tara segera menelpon Ika dan Desi supaya mereka tidak terlambat datang ke Taman Kota untuk menemui Doni dan Rian. “Tut… tut… tut…” bunyi suara nada sambung handphone Ika yang masih standart.“Hallo… Assalamu’alaikum…” ucap Ika sambil mengucapkan salam.“Wa’alaikum salam” ucap Tara menjawab salam yang ducapkan oleh Ika.“Ada apa Tar, tumben nich telpon aku! Apa ada yang penting?” tanya Ika kepada Tara dengan muka penasaran.“Emmm… gini loch Ika…! To the point aja dech! Dua hari yang lalu setelah kamu pergi ke acara reunian SMP mendadak, aku berjanji pada Doni dan Rian bahwa hari ini kalian berdua akan aku pertemukan dengan Doni dan Rian.” ucap Tara berusaha menjelaskan peristiwa yang terjadi dua hari yang lalu setelah Ika akan pergi dengan Desi ke acara reunian SMP dadakan.“Emang mereka berdua mau ngomong apa sich?” tanya Ika dalam hati dengan muka penasaran.“Ka, kenapa koq diem… Ngomong donk! Oh ya, sepertinya kemarin mereka akan berbicara sesuatu yang penting deh!” ucap Tara mengagetkan temannya yang sedang melamun.“Ok deh aku akan beritahu sama Desi” jawab Ika dengan nada setuju.“Bye… Ika!!!” jawab Tara memutus telepon.“Bye juga” sahut Ika. Berselang beberapa menit setelah Tara menelpon Ika, Doni pun menelpon Tara untuk memastikan janji yang diucapkan Tara telah dilaksanakan. Pada saat menelpon Tara, hati Doni merasakan hal yang dirasakan dulu waktu kelas empat SD kalau dia dekat dengan Desi. Doni kembali merasakan hal yang spesial sama sahabat Desi itu. “Hallo…”“Iya… ini siapa ya?”“Duch… Tara ini baru dua hari udah lupa sama aku!”“Oh… kamu Don. Ada apa? Tumben niey telpon? Pasti mau nanyain janjiku itu ya?”“Koq tau sich?”“Ya iyalah… kita khan baru dua hari kenal, kalau bukan tanya tentang janjiku itu apalagi hayyo?”“Mungkin perasaanmu terhadap aku”“Doni, maksudmu itu apa sich?”“Ga’ koq… Cuma bercanda.”“O iyya janjiku ga’ lupa koq! Don’t worry” Setelah Tara berbincang-bincang dengan Doni, Desi dan Ika pun datang. Tanpa disengaja, Desi mendengar pembicaraan antara Doni dan Tara. Dan mereka bertiga ngobrol sepanjang perjalanan di mobil mau ke Taman Kota. “Waduuh… Waduuh… udah adda yang akrab niey sama Doni” ucap Desi dengan kata-kata yang agak menyindir Tara.“Duch… kayaknya Desi suka tuch sama Doni… Wah mereka berdua kayaknya cocok tuch!” ucap Tara dalam hati.“Halloww… Tara, kmuw ga’ kenapa-kenapa khan?” tanya Ika sambil melambai-lambaikan tangannya didepan muka Tara.“Ga’ koq Desi, Ika, aku Cuma ingat dengan tugas ku yang numpuk dirumah niey!” jawab Tara berusaha mencari alasan.“Klw gitu kita turun dulu ya? Bye… bye…” ucap Ika.“Bye…” jawab Tara.
Sesampainya di rumah, Tara langsung masuk kekamar dan menulis Diary tentang kejadian yang dialaminya seharian. Setelah beberapa menit Tara menulis Diary nya, Desi menelpon Tara memberitahukan apa yang terjadi di Taman Kota. “Kau Diam Tanpa Kata… Kau Seolah Jenuh Padaku…” bunyi ringtone HP Tara jika ada telpon masuk.“Hallo Assalamu’alaikum” ujar Tara mengucap salam.“Hallo Wa’alaikumsalam” jawab Desi.“Ehm… Ada apa ya Des… tumben malem-malem kamu telpon aku. Biasanya jam segini kamu sudah dialam mimpi. Oh… ya, gimana tadi kencanmu dengan Doni?” ucap Tara bertanya kepada Desi tentang kejadiannya di Taman Kota.“Biasa aja koq cuma tadi……… Ehmmmmm” jawab Desi dengan kata-kata yang belum selesai dan dengan nada suara yang sedih.“Cuma tadi gimana maksudmu? Kamu ditinggal pulanng sama Doni? Atau kamu dikerjain sama Doni?” tanya Tara dengan sejumlah pertanyaan yangn mewakili perasaan penasaran Tara terhadap kencan Desi dengan Doni.“Ga’… ga’… semua pertanyaanmu salah” jawab Desi yang bikin rasa penasaran Tara meningkat.“Lalu…?”“Aku ditembak sama Doni…” jawab Desi menghilangkan rasa penasaran Tara.“Ya Allah Desi… Kamu ini bikin akku mati penasaran ya? Trus kamu jawab apa?” tanya Tara kembali.“Ya… aku terimalah… Aku khan dulu juga suka sama Doni. Oh… iya… Ika juga ditembak lho sama Rian.”“Kalau gitu selamat ya, buat kalian berdua!” ucap Tara memberikan selamat pada Desi dan Ika.“Tar… udahan dulu ya? Bye…”“Bye…” Setelah kejadian seharian yang membuat hati Tara sakit dan hancur serta membuat badan Tara lelah, Tara kemudian pergi ke pulau kapuk dan melanjutkan kepergiannya ke alam mimpi.
FIVE MOUNTH LATER Setelah lima bulan Doni dan Desi, serta Ika dan Rian berpacaran, Tara mendengar gosip bahwa sahabatnya Ika telah putus dari Rian dan memilih Rian untuk menjadi sahabatnya lagi seperti yang dulu. Ditemui di halaman sekolah saat istirahat, Tara langsung menanyakan gosip tentang kabar putusnya hubungan Ika dan Rian. Dikesempatan itu pula, Tara curhat kepada Ika tentang perasaannya terhadap Doni. “Lho Ik, denger-denger kamu putus ya sama Rian? Kenapa?” tanya Tara.“Iya nie Tar, aku putus sama Rian! Karena sekolahku berantakan gara-gara pacaran, jadi aku mutusin dia dech.” jawab Ika.“Udah lah Ika, kalau itu yang terbaik buat kamu jangan ditangisi dan jangan disesali, lagian itu semua buat kamu juga khan?” ucap Tara berusaha menghibur Ika yang sedang kesedihan.“Thank’s ya, Tara kamu memang sahabat aku yang paling baik.” Ucap Ika memuji Tara dan langsung memeluk Tara sebagai tanda terima kasih.“Sama-sama” ucap Tara membalas pujian Ika.“Cuma itu?” ucap Ika.“Ehm… Ka, aku boleh ngomong ga’ sama kamu? Ini tentang perasaan aku kepada Doni pacarnya Desi!” ucap Tara dengan ucapan yang gagap.“Boleh aja, emang kamu suka ya sama Doni?”“Iya, Ka, semenjak aku pertama kali berkenalan sama Doni aku merasakan hal yang spesial kepada Doni. Tapi Ka, jangan beritahukan hal ini kepada siapapun termasuk Rian dan Desi.”“Oh gitu aku akan jaga rahasia ini selamanya” jawab Ika. Bel pulang sekolah berbunyi Tara cepat-cepat pulang kerumah karena Tara tadi sempat melihat Doni dan Desi berpelukan dengan mesranya. Sesampainya dirumah, Tara merenungi apa yang dia rasakan sekarang kepada Doni hanya mimpi seorang putri tidur. Lalu, Tara segera bilang ke orang tuanya supaya pindah sekolah ke Surabaya. Hal itu Tara lakukan supaya dia lupa sama Doni. “Ma, Pa, Tara mau ngomong sama Mama dan Papa, boleh ga’?”“Silahkan aja Tara, emang kamu mau ngomong apa? Koq keliatannya serius banget!” ucap Mama Tara“Ma, Pa, Tara mau pindah sekolah ke Surabaya ya Ma, Pa? Boleh khan? Plizzz!” ucap Tara memohon kesetujuan usulnya kepada Mama dan Papanya.“Mama sih boleh aja, tapi yang tentuin semua itu khan Papa kamu, sayang.” ucap Mama.“Papa juga setuju aja, tapi kamu koq tiba-tiba pingin pindah sekolah ke Surabaya?” tanya Papanya.“Ga’ ada apa-apa koq Ma, Pa!” jawab Tara“Ya udah, besok Papa akan urus semuanya.” ucap Papa Tara dengan kalimat setuju.“Terima kasih ya Ma, Pa? Kalau gitu Tara tidur dulu ya? Good Night Ma, Pa?” ucap Tara.“Good Night, sayang.” ucap Mama dan Papa nya bebarengan.
Setelah mendapatkan izin dari kedua orangtua Tara, kemudian Tara menelpon Ika, karena Ika adalah salah satu sahabatnya yang nomor handphone-nya masih aktif. Tara menelpon Ika untuk memberitahukan bahwa mulai tiga hari kedepan, Tara udah pindah skul ke tempat lain. “Apa yang harus aku lakukan… untuk membuat kau mencintai… ku…” suara NSP Ika yang memakai lagu seventeen.
Tak lama kemudian HP Ika berbunyi RBT Slalu Mengalah“Mengapa slalu aku yang mengalah…” suara RBT Ika ketika handphone-nya berbunyi.“Hallo, Iya Tar, ada apa?” ucap Ika sambil membenahi kamarnya yang berantakkan.“Hallo, Ika gini aku mau ngomong, tiga hari kedepan aku udah ga’ skul lgi di SMA Negeri 1 Jepara lagi!” ucap Tara.“Lho Tar, emangnya kenapa? Apa gara-gara Doni, kamu truz pindah?” tanya Ika.“Iya Ka, aku haruz berusaha ngelupain Doni dari pikiran dan hatiku! Dan pindah sekolah mungkin salah satu caranya.” jawab Tara.“Tar, pepatah pernah bilang ‘cinta boleh cinta, tapi cinta itu tidak haruz kita miliki’, tapi semua terserah kamu, itu khan usulku aja!” ucap Ika.“Ya udah Ka, entar aku pikir-pikir dulu kata2 yang kamu ucapin tadi. Bye Ika.” ucap Tara.“Bye.”
THREE DAYS LATER Selama tiga hari Tara berpikir, tapi Tara belum jua menemukan jawaban yang ia cari. Dan mulai hari ini Tara sudah tidak bersekolah lagi di SMAN 1 Jepara. Sedangkan ditempat yang berbeda, Ika berusaha mencari Desi dan menceritakan apa yang sedang terjadi pada Tara. “Duch… Desi mana sich?” tanya Ika sambil menoleh kekanan dan kekiri.“Nah… itu Desi. Kebetulan ada Doni juga.” ucap Ika yang telah menemukan sosok seorang sahabatnya yang dicari itu.“Doni, Desi, wait me.” ucap Ika memanggil Desi dan Doni dengan nafas yang terengah-engah.“Ada apa nie Ka, kayaknya kamu mau ngomong serius nie sama kita.” ucap Desi.“Iya, aku emang mau ngomong serius sama kalian berdua.” Ucap Ika.“Tentang apa Ka?” tanya Doni penasaran“Tentang Tara…” jawab Ika dengan singkatnya.“Emang ada apa dengan Tara?” tanya Desi dan Doni yang makin penasaran.“Gini lho Desi, Doni, Tara tuch mulai hari ini dia tidak skul lagi disini.” jawab Ika dengan kata-kata yang semakin membuat Desi dan Doni penasaran.“Ayo donk Ka, to the point aja. Emang kamu tega liat kita mati penasaran karena kamu?” tanya Desi.“Ga’ sich aku ga’ tega liat kalian berdua mati penasaran karena ceritaku. Ya udah to the point aja. Sebenernya Tara tu suka sama Doni semenjak Doni dan Rian kamu kenalin sama Tara, tapi cintanya kini hanya sebelah mata, karena Doni t’lah jadi milikmu Desi. Truz dia ngambil keputusan untuk pindah sekolah supaya dia ga’ ingat lagi dengan yang namanya ‘DONI’.” ucap Ika dengan panjang lebarnya.“Ya udah aku akan nyerahin Doni sama Tara, dan sekarang kita kerumah Tara bareng-bareng yuks!” ucap Desi sambil mengajak Ika dan Doni kerumah Tara untuk ngejelasin smuanya.“Tapi Tar, aku sayang banget sama kamu.” ucap Doni tidak mau diputusin sama Desi.“Don, denger ya Tara itu sahabat baik aku, aku ga’ mau kehilangan dia, hanya gara-gara kamu jadi milikku. Udahlah Don, kita kerumah Tara sekarang aja, entar smuanya dijelasin disana aja.” ucap Desi menjelaskan kepada Doni.“Ayo plendz kita berangkat, keburu telat nie!” ucap Ika memperingatkan kalau Ika, Desi, dan Doni akan kerumah Tara untuk menjelaskan semua yang terjadi.
FIVE MINUTES LATER Setelah lima menit perjalanan kerumah Tara. Ika, Desi, dan Doni melihat Tara sedang duduk-duduk membayangkan teman-teman lamanya sedang bersenang-senang di skul lamanya. Lalu Doni membunyikan bel mobil. “Tin… tin…”“Ika, Desi, Doni. Ngapain kalian kesini?” tanya Tara dengan herannya.“Tar, kita kesini mau nyelesain apa masalahmu!” jawab Desi.“Ka, kamu beritahu sama Desi tentang perasaanku, ya?” tanya Tara kepada Ika.“Sorry Tar, maksud aku bukan munafik, tapi aku ingin kamu ga’ pindah Tar.” ucap Ika berusaha menjelaskan.“Tar, aku udah putus sama Doni, and kamu sekarang boleh koq pacaran sama Doni, aku akan merestui hubungan kalian.” ucap Desi.“Ga’ koq Desi, aku udah ngepikirin ucapan Ika waktu itu, ‘cinta boleh cinta, tapi cinta itu tidak haruz kita miliki’. Jadi, aku harap kalian berdua jangan putus, ya?” ucap Tara memberitahukan sesuatu yang tidak Ika, Desi, dan Doni kira.“Tapi, kamu ga’ jadi pindah khan?” tanya Ika memastikan.“Buat apa pindah kalau ada temen-temen ku yang mau menemani hari-hariku.” jawab Tara dengan kata-kata yang sok puitis.“Ehm… Desi kamu mau ga’ balikan sama aku?” tanya Doni mengajak Desi pacaran lagi.“Udah terima aja Desi.” ucap Ika dan Tara menyuport Desi dan Doni agar jadian lagi.“Ngapain kita pacaran, kalau kita masih bisa bersahabat.” Jawab Desi menolak permintaan Doni.“Iya… ya… sahabat lebih dari sgala-galanya. Dan sahabat takkan bisa menggantikan apapun didunia ini.” Ucap Doni menambahkan perkataan Desi.“Sahabat memang indah………………” teriak Desi, Doni, Ika, dan Tara.
Persahabatan memang awalnya menyebabkan timbulnya rasa cinta. Tapi, jangan sampai rasa cinta itu akan merusak persahabatan yang indah. Sahabat lebih sulit dicari dibandingkan cinta kepada seseorang. Karena tidak semua teman yang kita kenal akan menjadi sahabat yang baik dan amanah. Mungkin saja sahabat baru kita, akan menjadi senja dia yang akan menghancurkan harga diri kita. THE END
My
Category
- CERPEN (7)
- Pengetahuan (2)
- PERSIJAP (2)
- Tentang Jepara (8)
- Tutorial Bahasa inggris (1)
- Untuk semua (5)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar