Jepara di masa Ratu Kalinyamat
Oleh SP Gustami
Masa berlangsungnya pemerintahan Ratu Kalinyamat adalah masa kejayaan aktivitas pertukangan dan perundagian yang berkaitan dengan pembangunan galangan kapal, pembuatan perahu nelayan, pembangunan rumah tradisional, istana, tempat tinggal para bangsawan, tempat tinggal atau rumah penduduk, rumah ibadah, makam dan perabot rumah tangga. Para perajin berhasil mewujudkan karya seni bernilai tinggi seperti tampak pada hasil pembangunan rumah tradisional Kudus. Bangunan itu dibuat penuh ukiran yang idnah, rumit, ngrawit, ngremit, dan werit. Sesuai jamannya pembangunan rumah tradisional Kudus dipertimbangkan dengan cermat dan seksama, sehingga hasilnya dapat memenuhi kebutuhan fungsional dan memberikan kepuasan estetik yang penuh makna simbolikdan harapan hidup. Keselarasan, kesejahteraan, dan kedamaian nampaknya merupakan tujuan utama umat manusia, hal itu terbungkus dalam berbagai bentuk ornamentasi, seperti terekam dalam hiasan berbentuk tangga yang melambangkan jalan masuk sorga, atau lalu lintas turun-naiknya roh-roh nenek moyang. Hiasan swastika melambangkan keserasian dan keseimbangan hidup, hiasan pucuk rebung dimaksudkan sebagai gambaran tunas muda yang tumbuh dan merefleksikan regenerasi, kesuburan, dan kelangsungan hidup. Hiasan kala-makara merupakan gambaran terpautnya dunia atas dan dunia bawah atau hubungan kasih saying ibu dan anak, yang selanjutnya dikaitkan dengan kasih saying Dewi Sri Pelindung kesuburan tanah pertanian.
Ekspresi seni seperti dijelaskan di atas lazim terjadi dan dilakukan oleh perajin sehingga karya yang dihasilkan mempunyai arti penting sebagai catatan peristiwa, rekaman pola piker, perlaku hidup, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat pendukungnya, yang disalurkan melalui perwujudan karya seni. Sistem pewarisan keahlian itu dilakukan secara turun temurun sehingga cabang seni ini dikategorikan sebagai seni tradisional.
Karya seni yang merepresentasikan nilai-nilai adiluhung seperti tercermin pada rumah tradisional Kudus, adalah salah satu tipe bangunan berstruktur kompleks, unik,ngremit, werit yang sampai kini tetap dikagumi masyarakat dan menjadi kebanggaan bangsa. Kekaguman itu tersirat dalam ungkapan sibolik yang berbunyi “ lembut bagaikan sutra dan ngrawit seperti rambut,”, suatu pernyataan yang mengakui keunggulan dan keindahan seni hasil karya perajin Jepara. Kehadiran seni tradisional itu dapat membangkitkan suasana nyaman, damai, anggun, bangga, dan monumental, bahkan menimbulkan minat untuk memiliki dan menikmatinya. Penyajian konstruksi dan ornamentasi yang disusun berlapis-lapis tumpang tindh dengan ceruk menjorok ke luar dank e dalam, mengingatkan pada tradisi seni sebelumnya seperti yang terpampang pada diding-dinding candi. Bentuk pilar dan panel dinding candi yang menjorok ke luar dank e dalam itu tampaknya melandasi penciptaan gebyok Kudus sehingga hasilnya memiliki gaya seni arsitektur yang unik dan spesifik.
Berbeda dengan hiasan panel pada dinding candi, motif hias pada panel gbyok Kudus didasarkan pada stilisasi tumbuhan, unsure-unsur geometis, pola permadani dan profil berukir. Semua itu terbangun menjadi satu kesatuan yang utuh dalam keseluruhan bentuk dekorasi dinding rumah tradisional tersebut. Motif hiasnya disusun dengan apik, cantik, estetik dan harmonis, membangkitkan rasa bangga dan kekaguman. Unsure ornament lainnya terdiri dari bentuk pilin yang disusun mirip tangga, bentuk tumpal yang menggambarkan pucuk rebung, buah nanas, swastika, meander dan banji. Bentuk sulur dan bunga padma yang menjulur tergerai pada vas bunga merupakan hamparan altar persembahan, sedangkan bentuk kaladan naga umumnya dikaitkan dengan dunia atas dan dunia bawah. Ayat-ayat suci Al Quran berupa kaligrafi Arab juga dimanfaatkan sebagai unsure hias, terutama untuk memperindah bangunan rumah ibadah, suatu hal yang menunjukkan relijiusitas masyarakat pendukungnya. Stilisasi bentuk burung dank era yang telah tersamar dalam bentuk kaligrafi arab, dewasa ini masih dapat disaksikan pada dinding makam Mantingan Jepara.
Produk lain yang kualitasnya setara dengan gbyok Kudus adalah slintru berukir tembus pandang yang berfungsi sebagai penyekat ruang untuk memisahkan ruang bagian dalam dan ruang bagian luar. Di balik slintru berukir krawangan yang indah dan rumit itu tersimpan maksud-maksud simbolik untuk menggambarkan alam piker orang Jawa. Slintru yang diukir tembus pandang (krawangan) kecuali berfungsi sebagai tirai pembatas, juga berguna untuk mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di luar ruang dalam dalam. Hal ini mencerminkan sikap hati-hati dan waspada. Hiasan pada mahkota slintru umumnya mengacu pada bentuk meru, suatu motif hias yang lazim dimanfaatkan pada produk seni zaman purba.
Produk lain yang memperlihatkan kualitas tinggi ialah gayour gong, yang terbuat khusus untuk upacara seremonial. Dilihat dari segi desain dan ukirannya, produk itu memperlihatkan teknik keterampilan yang sempurna mantap, sophisticated dan fantastisch.
Pada zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat, bentuk barang dan unsure hias Eropa juga mwewarnai kegiatan pertukangan dan perundagian. Hal itu dapat diketahui melalui hasil stilisasi bunga dengan ceruk-ceruk tajam pada pilar gebyok Kudus mirip hiasan kapitil gaya seni Khorintia. Ketika itu, gaya seni Barok dan Racoco telah mempengaruhi bentuk ukir Jepara, karena menurut Lemara, pada abad ke 16, di negeri Belanda terjadi masa peralihan dari masa kondisi tertutup ke terbuka sehingga beteng-beteng kaum bangsawan menjadi terbuka sebagai akibat terjadinya perubahan besar di Eropa Barat yang memunculkan pola hidup individual. Rumah dan kamar semakin bertamah, kebutuhan perabot secara kuantitatif juga meningkat. Pada waktu itu telah terjadi penyeberangan di bidang keahlian yang mengakibatkan munculnya para professional multi ketrampilan. Para arsitek, selain membuat rencana bangunan juga membuat rancangan mebel ukir, tanpa peduli kesulitan teknis yang dihadapi perajin. Para perajin harus memecahkan sendiri masalah teknik baru pembuatan barang produksi berdasarkan teknik konstruksi yang lebih maju. Pada abad 17, yaitu pada masa pemerintahan Louis XIV, di perancis telah berdiri pabrik Gobelins yang beroperasi dalam skala besar dengan melibatkan ratusan perajin, seniman, decorator, dan pengukir untuk membuat kereta api, permadani, dan perabot rumah tangga berukir mewah. Pada pertengahan abad 18, Inggris memproduksi barang keperluan rumah tangga yang artistik dengan kemanfaatan (utility) dan daya tahan (durability) sejalan dengan perkembangan industrialisasi. Prancis memimpin perkembangan seni mebel ukir dengan gaya Louis ke XIV yang memuncak pada gaya Louis ke XVII. Pengaruh gaya seni mebel ukir Renaisans itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia, dan pada masa pemerintahan colonial gaya seni tersebut masuk ke bumi nusantara bersamaan dengan datangnya orang-orang Belanda dan Inggris.
Pada awalnya, barang mebel ukir yang digunakan oleh para bangsawan dan penguasa colonial diimpor dari Eropa Barat, namun beberapa sumber menjelaskan bahwa para penguasa Belanda mendatangkan tukang dari Eropa ke Indonesia untuk mengerjakan pembangunan dan pembuatan perabot rumah tangga. Mereka berbaur dengan tukang dari Cina dan Jawa sehingga terjadi pembauran gaya seni dan akulturasi budaya. Akibat pembauran tenaga teknik itu timbullah gaya seni Barok dan Racoco yang bekas-bekasnya dapat ditemukan di berbagai daerah di Jawa. Tiang bangunan ata kaki meja yang berukuran besar dan kokoh menunjukkan gaya seni Barok, sedangkan bentuk tiang bangunan, kaki kursi atau meja yang tampak ramping, mungil dan memberikan kesan ringan menunjukkan gaya seni Racoco.
Tradisi mebel ukir di jawa dimulai dari bentuk senthong dilengkapi dengan gladhak yang berada di senthong tengah rumah tinggal dan berfungsi sebagai tempat tidur. Perkembangan selanjutnya, muncul bentuk kursi yang dapat dirunut melalui keberadaan amben besar yang berfungsi sebagai tempat menerima tamu sekaligus berfungsi sebagai tempat tidur. Umumnya para tamu duduk di atas amben bersama-sama dengan tuan rumah. Bentuk amben itu kemudian diberi sandaran sehingga berbentuk dengan sebutan glodhog, yaitu suatu jenis produk mebel yang berungsi sebagai tempat penyimpanan padi ata pecah belah.
Fakta yang ada menunjukkan, perkembangan mebel dimulai dari bentuk yang paling sederhana tanpa ukiran kemudian meningkat sampai pada mebel yang berukir indah, unik dan ringan. Pada akhirnya, produk mebel ukir yang dihasilkan dapat dikategorikan sebagai karya seni bermutu klasik, lengkap dengan daun meja marmer atau keramik porselin yang diimpor dari negeri China. Bahkan sudah sejak zaman dinasti Tang, keramik Cina yang berukuran serba besar sudah beredar di kawasan Nusantara, antara lain Kalimantan.
Pada abad ke 19, perkembangan industry ditandai dengan terjadinya suatu momentum teknik produksi mesin berhadapan dengan teknik buatan tangan. Beberapa indsutri mekanik membawa perubahan dramatis, seperti timbulnya industry tekstil yang makin menyudutkan unit-unit produksi kerajinan tangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar